Pendidikan Agama Islam Di SD Islam Al-Huda

PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH

Disusun oleh: Tim PAI SD Islam Al-Huda

OPTIMALISASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

OLEH GURU AGAMA ISLAM

Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa agar memahami (knowing), terampil melaksanakan (doing), dan mengamalkan (being) agama Islam melalui kegiatan pendidikan. Tujuan pendidikan Agama Islam di sekolah (bukan di madrasah) ialah murid memahami, terampil melaksanakan, dan melaksanakan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT berakhalak mulia dalam kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Optimalisasi Pendidikan Agama Islam (PAI) tidak berarti penambahan jumlah jam pelajaran di sekolah, tetapi melalui optimalisasi upaya pendidikan agama Islam. Itu berupa optimalisasi mutu guru agama Islam dan optimalisasi sarana. Karakteristik utama PAI adalah banyaknya muatan komponen being, di samping sedikit komponen knowing dan doing. Hal ini menuntut perlakuan pendidikan yang banyak berbeda dari pendidikan

bidang studi umum. Pembelajaran untuk mencapai being yang tinggi lebih mengarahkan pada usaha pendidikan agar murid melaksanakan apa yang diketahuinya itu dalam kehidupan sehari-hari. Bagian paling penting dalam PAI ialah mendidik murid agar beragama; memahami agama (knowing) dan terampil melaksanakan ajaran agama (doing) hanya mengambil porsi sedikit saja. Dua yang terakhir ini memang mudah. Berdasarkan pengertian itulah pendidikan agama Islam memerlukan pendekatan pendekatan naql, akal dan qalbu. Selain itu juga diperlukan sarana yang memadai sehingga mendukung terwujudnya situasi pembelajaran yang sesuai dengan karakter pendidikan agama Islam. Sarana ibadah, seperti masjid/mushallah, mushaf al-Quran, tempat bersuci/tempat wudlu merupakan salah satu contoh sarana pendidikan agama Islam yang dapat dipergunakan secara langsung oleh siswa untuk belajar agama Islam. Peningkatan mutu guru agama Islam diarahkan agar ia mampu mendidik muridnya untuk menguasai tiga tujuan tadi. Untuk itu perlu ditingkatkan kemampuannya dalam penguasaan materi pelajaran agama, penguasaan metodologi pengajaran, dan peningkatan

keberagamaannya sehingga ia pantas menjadi teladan muridnya.

Banyak orang memberikan penilaian terhadap keberhasilan guru agama Islam (GAI). Pada umumnya, mereka menyatakan bahwa GAI banyak gagal dalam pelaksanaan pendidikan agama Islam. Penelitian menunjukkan bahwa pada aspek knowing dan doing guru agama tidak gagal; mereka banyak gagal pada pembinaan aspek keberagamaan (being). Murid-muridnya memahami ajaran agama Islam, terampil melaksanakan ajaran itu, tetapi mereka sebagiannya tidak melaksanakan ajaran Islam tersebut dalam kehidupannya sehari-hari. Mereka memahami hukum dan cara shalat lima, terampil melaksanakan shalat lima, tetapi sebagian dari murid itu tidak melaksanakan shalat lima. Mereka tahu konsepjujur, mereka tahu cara melaksanakan jujur, tetapi sebagian dari mereka tetap sering tidak jujur dalam kehidupannya sehari-hari. Jadi, aspek keberagamaan itulah yang sangat penting untuk ditingkatkan.

Berikut ini adalah uraian singkat tentang metode internalisasi yang bertujuan untuk meningkatkan keberagamaan siswa sekolah.

Metode Internalisasi

Sesuatu yang telah diketahui dapat saja sekedar diketahui, tempatnya di otak. Untuk mengetahui apakah murid sudah tahu, guru dapat memberikan soal ujian atau ulangan. Jika jawabannya benar, berarti murid sudah tahu. Murid mampu bahkan terampil melaksanakan yang ia ketahui itu. Tempatnya di anggota badan. Nah, yang di otak dan yang di badan itu boleh jadi menetap saja di situ; dua-duanya itu masih berada di luar kepribadian, masih berada di daerah ekstern, belum berada di daerah dalam kepribadian (intern). Karena itu pengetahuan dan keterampilan harus dimasukkan ke daerah intern. Proses memasukkan inilah yang disebut internalisasi. Untuk memahami konsep ini lebih dalam cobalah perhatikan uraian berikut ini.

Tiga Tujuan Pembelajaran

Ada tiga tujuan pembelajaran. Ini berlaku untuk pembelajaran apa saja.

1. Tahu, mengetahui (knowing). Di sini tugas guru ialah mengupayakan agar murid mengetahui sesuatu konsep. Murid diajar agar mengetahui menghitung luas bidang. Guru mengajarkan bahwa cara yang paling mudah untuk mengetahui luas bidang segi empat ialah dengan mengalikan panjang (p) dengan lebar (l). Guru menuliskan rumus: Luas = panjang x lebar (L=pxl). Guru mengajarkan ini dengan cara memperlihatkan beberapa contoh bidang. Untuk mengetahui apakah murid telah memahami, guru sebaiknya memberikan soal-soal latihan, baik dikerjakan di sekolah maupun di rumah. Akhirnya guru yakin bahwa muridnya telah mengetahui cara menentukan luas bidang segi empat. Selesai aspek knowing.

2. Terampil melaksanakan atau mengerjakan yang ia ketahui itu (doing). Dalam hal luas bidang seharusnya murid dibawa ke alam nyata yaitu menyaksikan bidang (bidang-bidang) tertentu, lantas satu persatu murid (dapat juga dibagi menjadi kelompok-kelompok) mengukur secara nyata dan menentukan luas bidang itu. Bila semua murid telah menghitung dengan cara yang benar dan hasil yang benar maka yakinlah guru bahwa murid telah mampu melaksanakan yang ia ketahui itu (dalam hal ini konsep dalam rumus itu tadi). Sampai di sini tercapailah tujuan pembelajaran aspek doing.

3. Melaksanakan yang ia ketahui itu. Konsep itu seharusnya tidak sekedar menjadi miliknya tetapi menjadi satu dengan kepribadiannya. Dalam hal contoh tadi setiap ia hendak mengetahui luas, ia selalu menggunakan rumus yang telah diketahuinya itu. Inilah tujuan pengajaran aspek being. Dalam pengajaran yang tidak mengandung nilai buruk-baik (seperti pengajaran Matematika itu) proses dari knowing ke doing, dari doing ke being itu akan berjalan secara otomatis. Artinya, bila murid telah mengetahui konsepnya, telah terampil melaksanakannya, secara otomatis ia akan melaksanakan konsep itu dalam kehidupannya. Nanti dalam kehidupannya, ia akan selalu mengalikan panjang dengan lebar bila mencari luas. Jika ia kurang baik akhlaknya, paling jauh ia menipu angka, mungkin dia menipu dalam mengukur panjang atau lebar, tetapi rumus itu tidak mungkin diselewengkannya. Karena itu dalam pengajaran yang tidak mengandung nilai (maksudnya: konsepnya bebas nilai) proses pembelajaran untuk mencapai aspek being tidaklah sulit. Sangat berbeda bila dibandingkan dengan konsep yang mengandung nilai. Perhatikan contoh berikut.

Tiga Tujuan Pembelajaran Shalat

Dengan memakai teori di atas kita dapat mengurai tiga tujuan pembelajaran shalat sebagai berikut:

1. Tahu konsep shalat (knowing).

Dalam hal ini murid mengetahui definisi shalat, syarat dan rukun shalat, serta hukum shalat dalam ajaran Islam. Untuk mencapai tujuan ini guru dan murid dapat memilih metode yang telah banyak tersedia. Metode ceramah boleh digunakan, diskusi juga mungkin, tanya jawab baik juga, dan seterusnya. Untuk mengetahui apakah murid memang telah paham konsep, syarat dan rukun shalat, guru dapat menyelenggarakan ujian berupa ujian harian yang sering disebut ulangan harian, atau dengan cara lain. Yang diuji hanyalah aspek pengetahuannya tentang konsep, syarat, dan rukun shalat. Jika hasil ujian semuanya bagus, berarti tujuan pembelajaran asepek knowing telah tercapai.

1. Terampil melaksanakan shalat (doing). Untuk mencapai tujuan ini metode yang baik kita gunakan ialah metode demonstrasi. Guru mendemonstrasikan shalat untuk memperlihatkan cara shalat. Lantas murid satu demi satu (imgat: satu demi satu) mendemonstrasikan shalat. Guru dapat memutarkan video rekaman shalat (lengkap fi’liyah dan qauliyahnya) dan murid menontonnya. Tatkala murid diminta mendemonstrasikan, guru telah dapat sekaligus memberikan penilaian. Jadi, di sini dilakukan pengajaran sekaligus penilaian. Bila guru telah yakin seluruh (sekali lagi seluruh) murid telah mampu melaksanakan (artinya terampil dalam cara shalat), maka tujuan aspek doing telah tercapai.

2. Murid melaksanakan shalat dalam kehidupannya sehari-hari (being). Nah, di sinilah bagian yang paling rumit itu. Sebenarnya, kekurangan pendidikan agama di sekolah selama ini hanya terletak di sini, tidak pada aspek knowing dan doing. Bagian knowing dan doing telah beres dan telah mencapai hasil yang sangat bagus karena bagian ini memang mudah. Jadi, jika berbicara metode pembelajaran agama Islam, sebenarnya untuk tujuan pertama (knowing) dan kedua (doing) itu sudah tidak ada lagi persoalan, anggap saja telah selesai, tidak lagi perlu diberikan pelatihan tentang itu. Itu sudah beres,

katakanlah baik secara keilmuan maupun dalam pelaksanaan. Bagaimana metode untuk meningkatkan keberagamaan siswa. Ini aspek being. Inilahpersoalan kita. Pengetahuan masih berada di otak, di kepala, katakanlah masih berada di pikiran, itu masih berada di daerah luar (extern); keterampilan melaksanakan juga masih berada di daerah extern. Upaya memasukkan pengetahuan (knowing) dan keterampilan melaksanakan (doing) itu ke dalam pribadi, itulah yang kita sebut sebagai upaya internalisasi atau personalisasi. Internalisasi karena memasukkan dari daerah extern ke intern, personalisasi karena upaya itu berupa usaha menjadikan pengetahuan dan ketermpilan itu menyatu dengan pribadi (person). Metode internalisasi itu diaplikasikan dalam berbagai teknik. Ada dua tenik utama. Pertama, teknik pengajaran kognitif; untuk ini Anda dapat menyusun program pengajaran kognitif dengan menggunakan uraian afektifnya Bloom dan kawan-kawan. Kedua teknik non pengajaran kognitif, seperti yang diuraikan berikut ini.

1. Peneladanan

Pendidik meneladankan kepribadian muslim, dalam segala aspeknya baik pelaksanaan ibadah khas maupun yang ‘am. Yang meladankan itu tidak hanya guru, melainkan semua orang yang kontak dengan murid itu, antara lain guru (semua guru), kepala sekolah, pegawai tata usaha, dan segenap aparat sekolah termasuk pesuruh, penjaga sekolah, penjaga sepeda, dan orang-orang yang berjualan di sekitar sekolah. Terpenting ialah peneladanan oleh orang tua murid di rumah. Mereka itu seharusnya meneladankan tidak hanya pengamalan ibadah khas, tetapi juga ibadah yang umum seperti meneladankan kebersihan, sifat sabar, kerajinan, transparansi, musyawarah, jujur, kerja keras, tepat waktu, tidak berkata jorok, mengucapkan salam, seyum, dan seterusnya mencakup seluruh gerak gerik dalam kehidupan sehari-hari yang telah diatur oleh Islam. Mengapa peneladanan sangat efektif untuk internalisasi? Karena murid secara psikologis senang meniru, kedua karena sanksi-sanksi sosial, yaitu seseorang akan merasa bersalah bila ia tidak meniru orang-orang di sekitarnya. Dalam Islam bahkan peneladanan ini sangat diistimewakan dengan menyebut bahwa nabi itu teladan yang baik (uswah hasanah). Nabi dan Tuhan menyatakan teladanilah nabi. Dalam perintah yang ekstrem disebutkan barang siapa yang menginginkan berjumpa dengan Tuhannya hendaklah ia mengikuti Allah dan rasulNya. Jika di atas dikatakan pembelajaran agama Islam selama ini gagal pada bagian keberagaman, sangat mungkin guru agama dan para pendidik lainnya kuarang memperhatikan teori ini.

2. Pembiasaan

Kadang-kadang kepala sekolah merasa terlalu banyak waktu akan terbuang bila pembiasaan hidup beragama terlalu maksimal di sekolahnya. Ada pembiasaan shalat berjama’ah zuhur, dikatakan merepotkan, memboroskan waktu. Ada pembiasaan melaksanakan shalat jum’at di sekolah, disebut memboroskan waktu dan merepotkan. Satu kelas menengok kawannya yang sakit, digunakan waktu 60 menit, itu akan merugikan jam pelajaran efektif, urunan untuk membantu teman yang sakit disebut pemborosan, dan sebagainya. Pandangan ini sebenarnya sangat keliru. Inti pendidikan yang sebenarnya ialah pendidikan akhlak yang baik. Akhlak yang baik itu dicapai dengan keberagamaan yang baik, keberagamaan yang baik itu dicapai dengan –antara lain- pembiasaan. Jarang kepala sekolah menyadari bahwa bila akhlak murid baik, maka pembelajaran lainnya akan dapat dilaksanakan dengan lebih mudah dengan hasil yang lebih baik. Konsep ini sekalipun sangat jelas, pada umumnya belum juga disadari oleh para guru.

3. Shalat sunnat mutlak sebagai pengganti ceramah Israk

Mikraj.

Tatkala tiba hari peringatan isra mikraj, biasanya ada ceramah. Isi ceramahnya sudah ditebak murid-murid. Karena itu sesekali tidak perlu ada ceramah. Diumumkan pada murid, besok siap wudluk dari rumah, bawa pakaian slahat, kita akan mengadakan peringatan israk mikraj. Tiba waktunya, pada jam pelajaran pertama, semua murid

disuruh masuk musholla atau aula, lantas melakukan shalat sunat sebanyak –misalnya- 20 rakaat, lakukan dua-dua, namanya shalat sunat mutlak. Itu akan menggunakan waktu sekitar 30 menit termasuk persiapan. Isra mikraj itu intinya ialah shalat. Setelah selesai kembalilah ke kelas, jam pelajaran efektif hanya terpakai sekitar 40 menit secara keseluruhan.

4. Membaca shalawat sebagai pengganti ceramah Maulud Nabi.

Tatkala peringatan maulud nabi, sesekali tidak perlu ada ceramah, toh ceramahnya rata-rata sudah dapat ditebak. Guru mengumumkan pada murid bahwa besok kita mengadakan peringatan maulud nabi. Besoknya murid-murid semua dikumpulkan di aula atau musholla (bila dapat menampung). Guru mengomando, mari kita membacakan shalawat untuk nabi, selama 20 menit. Guru agama, atau guru lain, atau salah seorang murid memimpin pembacaan shalawat. Bila telah selesai, kembalilah ke kelas. Jam pelajaran efektif hanya terpakai kurang dari 30 menit.

5. Berbagai perlombaan

Perlombaan-perlombaan banyak yang dapat dimanfaatkan sebagai teknik internalisasi yang dimaksud. Perlombaan mengarang yang isinya diarahkan ke nilai-nilai keberagamaan, perlombaan berpidato atau khutbah, cerdas cermat, dan sebangsanya merupakan pilihan yang layak dipertimbangkan.

6. Berbagai doa

Do’a akan memulai pelajaran boleh saja sekali-sekali membaca sesuatu ayat (atau beberapa ayat) al-Qur`an. Do’a selesai belajar sebaiknya jangan satu macam. Boleh diganti dengan bacaan semacam wirid. Misalnya, guru berkata anak-anak kita telah selesai belajar, kita akan pulang kerumah, mari kita membaca ayat kursi 3 kali, mulai. Lantas pulang dan guru tidak usah mengucapkan apa-apa lagi.

7. Menyanyikan lagu-lagu keagamaan

Ini baik sekali bagi murid-murid Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar.

8. Membaca Al-Qur`an

Sekira 10 menit sebelum jam pelajaran pertama dianjurkan anak-anak Itu membaca al-Qur`an yang dibawanya dari rumah.

9. Selalu thahur

Maksudnya, para murid itu selalu dalam keadaan wudluk, wudluknya tidak pernah batal. Guru dapat menganjurkan murid-muridnya agar selalu thahur; tentu saja guru meneladankan.

10. Puasa sunnat

Murid-murid sangat dianjurkan melaksanakan puasa sunnat, misalnya puasa Senen Kamis, Senin saja atau Kamis saja, sebaiknya guru meneladankan. Pendidikan menuju keberagamaan yang tinggi harus didukung oleh semua pihak, termasuk orang tua di rumah. Dukungan itu sebenarnya merupakan bagian dari penerapan metode internalisasi tadi. Upaya menemukan teknik-teknik itu harus ada pada guru-guru, spesifikasi sekolah dan tempat pendidikan masing-masing berbeda, teknik-tenik tertentu tepat pada suatu tempat belum tentu cocok digunakan di tempat lain. Kebiasaan di pesantren akan merupakan sumber belajar guru dalam rangka menemukan teknik lebih banyak dan lebih variatif. Memasukkan konsep ke dalam susunan berbentuk karangan indah, nyanyian, merupakan kemungkinan teknik internalisasi yang cukup efektif terutama pada murid-murid tingkat taman kanak-kanak dan sedolah dasar sembilan tahun. Apa yang dikemukakan di atas, yaitu metode internalisasi dan teknik-tekniknya, masih dalam bentuk gagasan. Nanti setelah sering dicobakan dan ternyata hasilnya baik, maka gagasan tersebut menjadi teori ilmu (sain) pendidikan; sementara ini gagasan itu masih berada di daerah filsafat pendidikan.

INTEGRASI AJARAN AGAMA ISLAM KE DALAM

PEMBELAJARAN

Penyelenggaraan pendidikan keimanan dan ketakwaan (imtak) itu adalah tugas sekolah, bukan tugas guru agama saja. Tujuan pendidikan imtak itu tidak akan tercapai bila hanya dilakukan oleh guru agama saja. Karena itu kepala sekolah, semua guru, semua karyawan, dan orang tua murid harus ikut menyelenggarakan pendidikan imtak itu.

Bab ini membicarakan sebagian yang harus dilakukan oleh guru umum dalam rangka membantu terselenggaranya pendidikan imtak agar pendidikan imtak itu lebih maksimal hasilnya. Yang dimaksud dengan guru umum ialah guru yang mengajarkan mata pelajaran umum, seperti guru Matematika, guru Biologi, guru Olah Raga, dan lain-lain, pokoknya guru selain guru agama. (Penyebutan guru umum ini sudah tepat; itu bukan pertanda kita menganut dikotomi. Umum itu lawannya khusus, bukan agama. Sering orang mengatakan umum-agama sebagai tanda penganut dikotomi).

Bagaimana cara guru umum melaksanakan pendidikan imtak, sementara ia bukan guru agama? Caranya ialah dengan mengintegrasikan ajaran agama ke dalam pembelajarannya.

Pengintegrasian itu dapat dilakukan pada:

a. Pengintegrasian materi pelajaran,

b. Pengintegrasian proses

c. Pengintegrasian dalam memilih bahan ajar

d. Pengintegrasian dalam memilih media pengajaran.

Pengintegrasian materi, maksudnya ialah mengintegrasikan konsep atau ajaran agama ke dalam materi (teori, konsep) pengetahuan umum yang sedang diajarkan. Ini terbagi menjadi beberapa kemungkinan:

a. Pengintegrasian filosofis, bila tujuan fungsional mata pelajaran (umum) sama dengan tujuan fungsional mata pelajaran agama. Misalnya: Islam mengajarkan perlunya hidup sehat, sementara Ilmu Kesehatan juga mengajarkan perlunya hidup sehat. Matematika mengajarkan teliti, Islam juga mengajarkan teliti.

b. Pengintegrasian karena konsep agama berlawanan dengan konsep pengetahuan umum. Misalnya (jika benar) guru Biologi mengajarkan manusia berasal dari monyet (mungkin mengacu pada teori Darwin) sementara guru agama Islam mengajarlkan bahwa manusia berasal dari Adam, dan Adam dari tanah. Yang berlawanan ini harus diselesaikan: mungkin guru agama Islam (GAI) yang salah mungkin juga guru Biologi yang keliru. Yang penting, konsep yang berlawanan itu jangan diajarkan seperti itu. Misalnya, GAI mengajarkan bahwa bunga bank, betapapun kecilnya, haram; sementara guru Ekonomi mengajarkan bahwa bunga bank boleh. Ini pun harus diselesaikan. Murid tidak boleh diajari konsep yang berlawanan.

c. Pengintegrasian dapat dilakukan jika konsep agama saling mendukung dengan konsep pengetahuan (umum). Misalnya Guru Ilmu Kesehatan sedang mengajarkan konsep bahwa kebanyakan penyakit berasal dari makanan; lantas ia mengajarkan bahwa diet itu perlu untuk kesehatan. guru Ilmu Kesehatan itu dapat meneruskan bahwa puasa adalah diet yang sangat baik. Cukup begitu saja, tidak usah menuliskan dalil atau uraian lebih banyak. Misalnya lainnya. Guru Astronomi sedang menerangkan benda angkasa, bahwa benda angkasa itu beredar pada garis edarnya masing-masing. Lantas ia mengatakan bahwa ada ayat al-Qur`an yang menjelaskan bahwa memang benda-benda di langit itu

beredar pada garis edarnya masing-masing karena diatur Allah demikian. Cukup sebegitu, tidak usah pakai dalil atau uraian lain. Pengintegrasian perlu dilakukan juga dalam proses pembelajaran. Konsepnya: jangan ada proses pembelajaran yang berlawanan dengan ajaran agama Islam. Misalnya: guru renang laki-laki mengajari murid perempuan berenang. Penyelesaiannya ialah mengganti guru renang lelaki dengan guru renang perempuan. Dengan demikian proses berjalan sesuai dengan ajaran Islam. Demikian juga pada proses yang lain seperti pengajaran menari dan lain sebagainya. Pengintegrasian perlu juga dilakukan dalam memilih bahan ajar. Misalnya guru Bahasa Indonesia dapat memilih bahan ajar yang memuat ajaran Islam untuk dibahas, misalnya dalam memilih sanjak; juga dalam memilih bahan bacaan lainnya. Di sini, guru Bahasa Indonesia itu memang berniat hendak meningkatkan imtak siswa melalui pengajaran Bahasa Indonesia. Pengintegrasian juga dapat dilakukan dalam memilih media. Misalnya, tatkala guru Matematika memilih sosok, ia menggunakan sosok mesjid untuk mengganti rumah. Ia mengajarkan bahwa satu mesjid ditambah dua mesjid sama dengan tiga mesjid. Tentu itu hanya dilakukan sekali-sekali saja. Pengintegrasian itu dilakukan secara selintas, seperti tidak disengaja, tidak formal, tidak ditulis dalam lesson plan (persiapan mengajar), tidak dievaluasi baik pada post-test mapun pada ulangan umum, tidak mengurangi waktu efektif pengajaran umum. Usaha pengintegrasian materi ini, di samping untuk membantu tercapainya tujuan PAI juga berdaya dalam menghilangkan pandangan dikotomis yang menganggap bahwa pengetahuan (pengetahuan ilmu, pengetahuan filsafat, pengetahuan mistik) merupakan pengetahuan bebas nilai. Demikian pula agama dipandang sebagai sesuatu yang tidak memiliki kaitan dengan pengetahuan itu. Keduanya tidak dapat dipertemukan, bahkan agama dapat dianggap penghambat perkembangan pengetahuan. Pandangan tersebut merupakan akibat dari cara pandang yang keliru, baik terhadap agama maupun terhadap pengetahuan umum. Jika integrasi agama dengan pengetahuan umum berhasil dengan baik, maka salah satu hasilnya ialah agama itu akan memandu pengetahuan umum.

INTEGRASI AJARAN ISLAM KE DALAM

KEGIATAN EKSTRA KURIKULER

Melalui kegiatan ekstrakurikuler peningkatan imtak siswa dapat dilakukan sekolah dengan memfasilitasi siswa mengembangkan berbagai kegiatan ekstrakurikuler baik yang berkaitan dengan mata pelajaran umum yang bernuansa keagamaan maupun kegiatan ekstrakurikuler keagamaan.

Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan yang diselenggarakan di luar jam pelajaran yang tercantum dalam susunan program sesuai dengan keadaan dan kebutuhan sekolah. Kegiatan ekstrakurikuler berupa kegiatan pengayaan dan perbaikan yang berkaitan dengan program kurikuler. Contoh-contoh kegiatan ekstra kurikuler antara lain ialah kepramukaan, usaha kesehatan sekolah, olah raga, palang merah, kesenian. Berbagai kegiatan ekstra kurikuler itu dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan keberagamaan siswa. Sebagai contoh guru mata pelajaran IPS dapat mengembangkan pokok bahasan yang berkaitan dengan kehidupan sesama manusia. Dalam pokok bahasan tersebut diuraikan mengenai tanggungjawab terhadap orang miskin. Pokok bahasan ini dapat dikembangkan menjadi suatu kegiatan

ekstrakurikuler berupa pengumpulan dana, atau bahan makanan, atau pakaian layak pakai termasuk pakaian seragam sekolah layak pakai untuk disumbangkan kepada orang yang memerlukan. Penyalurannya biasa melalui yayasan, panti, atau diberikan secara langsung. Dalam hal jenis pengumpulan dana, dana tersebut juga dapat diberikan dalam bentuk beasiswa kepada teman-teman sekolahnya.

Ekstrakurikuler yang Mendukung Peningkatan Imtak

1) Tidak boleh ada kegiatan ekstrakurikuler yang tidak memberi kesempatan kepada siswa untuk melaksanakan kewajiban agamanya.

2) Membuat berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang bernuansa kondusif dalam mendukung pengamalan nilai-nilai imtaq. Kegiatan lomba dalam upaya memantapkan hidup bersih dapat dilakukan melalui kegiatan ekstrakurikuler, misalnya saja masingmasing kelas diberi tugas merawat kebersihan kelas dan merawat taman. Kegiatan ini dapat berlanjut menjadi kegiatan lomba secara sederhana sebagai upaya memotivasi para siswa. Banyak hal mengenai ajaran Agama Islam yang dapat diaktualisasikan kedalam kegiatan ekstrakurikuler yang dapat dilakukan setiap saat sebagai upaya pembinaan secara ajeg. Ajaran yang mengajak hidup hemat, tidak boros sebagai mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, serta pokok bahasan membahas tentang kebutuhan manusia yang tak terbatas berhadapab dengan sarana atau sumber yang terbatas (kelangkaan) dan adanya pengorbanan ekonomis untuk memperolehnya sebagai pokok bahasan mata pelajaran Ekonomi, dapat diwujudkan dalam bentuk kegiatan menabung. Kegiatan ekstrakurikuler dapat dilaksanakan dalam bentuk kegiatan keseharian yang terintegrasi dengan tata kehidupan sekolah. Misalnya kelompok kebersihan kelas, kelompok pelestarian alam atau taman sekolah atau kelompok diskusi.

PENCIPTAAN SUASANA SEKOLAH YANG KONDUSIF

BAGI PERKEMBANGAN KEBERAGAMAAN SISWA

Suasana sekolah diduga sangat berpengaruh terhadap berkembangnya keberagamaan siswa. Suasana sekolah yang kondusif itu mengusahakan hal-hal berikut.

1) Keamanan

Keamanan merupakan modal pokok dalam menciptakan suasana yang harmonis dan menyenangkan di sekolah. Keamanan di sini adalah rasa aman adan tentram serta bebas dari rasa takut, baik lahir maupun batin, yang dirasakan oleh seluruh warga sekolah. Suasana sekolah yang aman dan tentram dapat memacu warga sekolah untuk melakukan aktivitas dengan baik, tanpa diikuti rasa waswas yang dapat mengganggu proses belajar-mengajar di kelas. Tanpa rasa aman, maka semua kegiatan pendidikan termasuk upaya peningkatan iman dan taqwa siswa tidak akan berjalan dengan baik. Rasa aman dapat diciptakan melalui penataan kondisi sekolah yang sedemikian rupa, sehingga ancaman dan gangguan baik-baik fisik maupun psikologis dapat diatasi dengan baik. Sekolah harus

proaktif mengantisipasi dan mengatasi segala bentuk gangguan baik yang timbul dari dalam maupun luar lingkungan sekolah. Sekolah juga haus memberikan rasa aman kepada semua warga sekolah untuk berpikir, berpedapat, dan melakukan hal-hal yang bersifat konstruktif dan produktif. Dengan demikian fungsi sekolah selain memberikan jaminan keamanan atas kebebasan menyatakan pendapat dan bertindak sesuai dengan tuntutan norma.

2) Kebersihan

Kebersihan adalah sebagian dari iman. Suasana bersih, sehat dan segar yang terasa dan tampak pada seluruh ruang kelas, ruang kerja, kamar mandi, halaman, dan fasilitas sekolah lainnya merupakan kodisi yang harus diciptakan sekolah untuk mendukung iklim sekolah yang kondusif. Selain perintah agama, kebersihan merupakan bagian dari pendidikan kesehatan karena bersih merupakan cermin keterauran dalam kehidupan. Karena itu, kebiasaan hidup bersih hendaknya disosialisasikan kepada peserta didik melalui kegiatankegiatan nyata di sekolah. Hidup bersih tidak hanya terbatas pada aspek fisik belaka, namun juga menyangkut aspek psikis. Kebersihan batiniah merupakan aspek

yang harus mendapat perhatian yang seksama dari sekolah. Kebersihan batiniah menyangkut berbagai perilaku psikis yang diwujudkan dalam sikap jujur, pemaaf, ikhlas, tidak dengki, tidak dendam, dan semacamnya. Dengan kata lain, kebersihan batin merupakan upaya membersihkan diri dari penyakit hati yang dapat merusak keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan serta dapat merusak tali silaturahim antar sesama muslim dan umat manusia apada umumnya.

3) Ketertiban

Ketertiban adalah suatu kondisi yang mencerminkan suatu keharmonisan dan keteraturan dalam pergaulan antarwarga sekolah, dalm penggunaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah, dalam penggunaan waktu belaajr mengajar, dan dalam hubungan dengan masyarakat sekitar. Ketertiban ini tidak tercipta dengan sendirinya melainkan diupayakan oelh setiap warga sekolah untuk mewujudkannya melalui lingkungan yang terkecil, seperti kelas, perpustakaan, ruang kerja, dan kamar mandi/toilet kemudian meluas ke lingkungan dalam sekolah dan lingkungan luar sekolah.

Untuk mewujudkan kondisi tertib ini, sekolah hendaknya menetapkan seperangkat tata tertib sekolah yang meliputi tata tertib siswa, tata tertib guru dan karyawan. Di damping itu, sekolah hendaknya menyediakan sarana dan prasarana sekolah untuk menunjang terlaksananya ketertiban sekolah seperti tempat parkir, tempat sampah, kantin/tempat makan dan semacamnya. Pengawasan pelaksanaan ketertiban juga diperlukan agar semua warga sekolah dapat mentaati semua tata tertib sekolah dan menggunakan semua perangkat sarana dan prasarana sekolah sesuai dengan fungsi masing-masing.

4) Keteladanan

Nabi Muhammad SAW berhasil menanamkan iman amat kuat pada muridnya. Salah satu cara yang beliau tempuh dalam menanamkan iman ialah dengan meneladankan; beliau jauh lebih banyak meneladankan daripada mengajarkan secara lisan. Keteladanan merupakan salah satu kunci utama dalam penanaman dan peningkatan iman, sebab dengan menampilkan berbagai bentuk aplikasi dari keimanan dan ketakwaan, orang yang melihatnya akan langsung mampu meniru perbuatan baik tersebut, tanpa sulit memahaminya. Keteladanan merupakan salah satu metoda dalam penanaman nilai-nilai agama yang paling efektif. Menyampaikan ajaran Islam seharusnya lebih banyak melalui peneladanan, sehingga nilai-nilai kebenaran itu tidak hanya eksis pada tataran kognitif saja, tetapi benar-benar terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Para guru yang memiliki kewajiban menyampaikan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan, tidak merasa cukup dengan hanya mengajarkannya di kelas melalui pembelajaran, akan tetapi guru merasa wajib menyampaikan perannya sebagai sosok yang mampu ditaati dan ditiru siswa. Maka metoda peneladanan ini akan semakin penting perannya dalam menciptakan situasi yang kondusif untuk menumbuhkembangkan keimanan dan ketakwaan siswa. Metode ini amat penting diketahui dan digunakan juga oleh orang tua di rumah.

5) Keterbukaan

Sifat transparansi dari sistem manajemen sekolah dan pada setiap permasalahan, merupakan sifat keterbukaan yang harus ada pada sistem persekolahan. Dengan adanya keterbukaan dari setiap insn sekolah, diharapkan tidak terjadi adanya saling curiga, berburuk sangka, beriri hati, fitnah dan sifat-sifat buruk lainnya yang cenderung mengaiaya dan merusak hak orang lain. Sistem manajemen sekolah yang transparan terutama dalam manajemen keuangan sangatlah penting, sebab seringkali masalah keuangan ini jika dikelola dengan tidak transparan menyebabkan masalah-masalah yang serius, yang berakibat tidak harmonisnya hubungan antar insan sekolah. Keadaan harmonis ini akan menciptakan situasi yang kondusif bagi tumbuh kembangnya keimanan dan ketaqwaan insan sekolah, terutama siswa. Untuk menciptakan suasana seperti itu sebaiknya diperhatikan hal-hal berikut ini.

1) Peraturan Sekolah

Peraturan yang dikeluarkan sekolah merupakan aspek pertama yang harus ada dalam upaya pengembangan suasana sekolah yang kondusif. Salah satu dari peraturan ini adalah tata tertib sekolah yang memuat hak, kewajiban, sanksi, dan penghargaan bagi siswa, kepala sekolah, guru dan karyawan. Tata tertib sekolah ini hendakmnya mencerminkan nilai-nilai ketakwaan. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan untuk dimasukan dalam tata tertib sekolah dalam rangka peningkatan imtaq siswa antara lain:

a) Kewajiban mengucapkan salam antar sesama teman, dengan kepala sekolah dan guru, serta dengan karyawan sekolah apabila baru bertemu pada pagi hari atau mau berpisah pada siang/sore hari.

b) Berdoa sebelum guru akan memulai mengajar di pagi hari dan ketika pelajaran akan diakhiri di siang/sore hari.

c) Kewajiban untuk melakukan ibadah bersama, seperti shalat dzuhur berjamaah untuk melatih disiplin beribadah dan jiwa kebersamaan.

d) Kewajiban untuk mengikuti kegiatan keagamaan yang dilaksanakan oleh sekolah, seperti peringatan hari-hari besar islam, pesantren ramadhan, pesantren kilat semacamnya.

e) Kewajiban untuk ikut menciptakan suasana aman, bersih, sehat, indah, tertib, kekeluargaan, dan rindang di lingkungan sekolah dan sekitarnya.

f) Siswa berpakaian sesuai dengan nilai-nilai dan ajaran Islam, seperti memakai kerudung bagi siswa putri. Peraturan tersebut hendaknya dibuat dan dibahas bersama-sama dengan melibatkan unsur kepala sekolah, guru, karyawan, siswa, dan Komite Sekolah sehingga berbagai nilai, norma, dan aturan yang telah dibuat dapat disepakati dan dilaksanakan bersama secara konsekuen.

2) Tenaga Pembina

Untuk menciptakan suasana sekolah yang kondusif bagi peningkatan imtaq siswa diperlukan tenaga pembina yang secara terus menerus melakukan bimbingan, arahan, dan pengawasan, terhadap segenap aspek yang berkaitan dengan program imtaq di sekolah. Kegiatan pembinaan ini harus melibatkan segenap potensi sumberdaya manusia yang tersedia disekolah, sehingga gerakan pembinaan ini berjalan secara serentak dan terintegrasi. Setidaknya ada tiga komponen tenaga pembina suasana sekolah guru agama, dan guru umum.

a) Kepala Sekolah

Sebagai pemimpin pendidikan, kepala sekolah mempunyai peran yang sangat sentral dalam upaya penciptaan suasana sekolah yang memungkinkan dapat mendorong peningkatan imtak siswa. Peran ini dapat dilakukan kepala sekolah sebagai manajer pendidikan dalam mengelola segenap sumberdaya pendidikan (sumberdaya manusia, dana, dan sarana parasarana) yang tersedia di sekolah. Dalam upaya ini, kepala sekolah harus mampu mengatur tenaga pembina utama kegiatan pembinaan imtaq siswa, menyediakan sarana dan parasarana yang diperlukan, menggalang dan menyediakan berbagai dana yang diperlukan untuk membiayai kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pembinaan imtaq. Berbagai upaya ini hendaknya diprogramkan secara integral dengan program kegiatan sekolah yang yang disusun setiap tahun dengan melibatkan berbagai pihak termasuk orang tua murid.

b) Guru Agama Islam

Guru Agama Islam (GAI) merupakan tenaga inti yang bertanggung jawab langsung terhadap pembinaan watak, kepribadian, keimanan, dan ketaqwaan siswa di sekolah.

c. Guru Umum Tenaga Kependidikan Lainnya

3) Sarana Prasana

Faktor dominan, disamping ketenagaan dan peraturan sekolah, dalam menciptakan suasana sekolah yang kondusip bagi peningkatan imtak siswa adalah ketersediaan sarana dan parasarana sekolah yang dapat menunjang kegiatan pembinaan. Sarana dan prasarana pendidikan yang baik dan penataannya yang teratur akan memberikan nuansa yang menyenangkan bagi segenap warga sekolah dalam melaksanakan kegiatan masing-masing termasuk dalam pembinaan keagamaan siswa. Beberapa sarana dan prasarana yang diperlukan untuk menciptakan suana sekolah yang kondusif bagi pembinaan siswa antara lain:

a) Lingkungan fisik dan psikologis sekolah yang aman, bersih dan sehat, yang dilengkapi dengan pemagaran sekeliling sekolah, tanaman dan pepohonan yang rindang kebun dan tanaman bunga yang tertata rapi, lingkungan sekolah yang jauh dari kebisingan suara dan polusi udara, serta lingkungan sekolah yang bebas dari jaringan dan pusat peredaran obat-obatan psikotropika dan obat terlarang lainnya.

b) Tempat ibadah berupa mushallah atau masjid yang dapat menampung siswa untuk melaksanakan shalat wajib berjamaah, khususnya shalat duhur dan shalat Juma’at. Bilamana sekolah belum mempunyai mushalla atau masjid ruang-ruang sekolah lainnya yang volume penggunaannya relatif kecil atau ruang yang tidak dipakai dapat dijadikan sarana ibadah siswa. Mushalla atau ruang ibadah yang kecil dapat digunakan secara bergantian antar kelompok siswa untuk melakukan shalat berjamaah dengan bimbingan GPAI atau guru lainnya yang ditunjuk.

c) Tempat pengambilan air wudlu bagi siswa yang akan menjalankan shalat. Tempat ini dapat menggunakan kamar kecil yang ada atau kran air yang dibuatkan secara khusus di dekat mushalla atau ruang ibadah. Kran air yang dibuat khusus ini lebih baik dari pada kamar kecil karena lebih terjamin kebersihannya dan siswa dapat mengambil air wudlu dari air yang mengalir.

d) Aula atau ruang besar yang dapat digunakan untuk kegiaran ceramah agama, peringatan hari-hari besar Islam atau diskusi tentang masalah imtaq dan iptek. Biasanya di sekolah-sekolah besar ruang pertemuan dengan kapasitas besar sudah tersedia, sehingg ruang tersebut dapat digunakan secara bergantian dengan acara-acara lainnya.

e) Kitab suci al-Quran dengan terjemahnya, kitab-kitab hadits dengan terjemahnya, buku buku ibadah, fiqh, akhlaq, tarikh islam, dan buku-buku islam lainnya. Kitab dan buku tentang keislaman ini sebaiknya diletakkan di mushalla atau perpustakaan yang setiap saat dapat dipinjam atau dibaca oleh siswa.

f) Hiasan dinding, ornamen, dan kaligrafi yang bernuansa Islam yang dapat dipajang pada ruang-ruang kelas, ruang guru dan tata usaha, perpustakaan, serta ruang lainnya yang memungkinkan.

g) Kamar kecil tempat pembuangan air kecil dan besar yang terjaga kebersihannya yang dibagi antara siswa laki-laki dan perempuan.

h) Penyediaan air bersih dan pembuangan air kotoran merupakan syarat terjaganya fasilitas umum ini. Walaupun di sekolah terdapat petugas kebersihan, namun program untuk menjaga kebersihan kamar kecil menjadi tanggung jawab warga sekolah, khususnya para siswa.

Program Kegiatan

Beberapa program kegiatan yang dapat dilakukan sekolah bagi pengembangan suasana sekolah kondusif antara lain:

1) Menata lingkungan sekolah secara teratur, antara lain taman dan kebun sekolah, halaman bermain, tempat duduk untuk beristirahat, tanaman dan pepohonan lainnya, serta bangunan fisik lainnya. Program ini bisa dilakukan dengan memberikan tanggung jawab pemeliharaan lingkungan kepada siswa secara berkelompok yang diatur secara bergantian.

2) Melaksanakan kebiasaan bersikap dan berperilaku sesuai dengan tuntunan akhlaqul karimah yang dicontohkan Rasulullah saw, seperti mengucapkan dan atau menjawab salam kepada sesame teman di sekolah, berdoa sebelum memulai pelajaran, mendoakan teman atau anggota keluarganya yang sakit, atau yang sedang ditimpa musibah, bersikap santun dan rendah hati, saling menghormati dan menolong antar sesama, dan semacamnya. Upaya pembiasaan ini harus dilakukan setiap hari, sejak siswa masuk di kelas satu, sehingg akhlak yang luhur ini menjadi budaya pergaulan siswa di sekolah.

3) Melaksanakan shalat dhuhur berjamaah dan shalat juamat untuk meningkatkan disiplin ibadah dan memperdalam rasa kebersamaan dan persaudaraan antar sesama muslim. Dalam kegiatan ini, murid secara bergantian menjadi imam, muadz-dzin, khatib, dan penceramah. Sesudah shalat dhuhur diupayakan diadakan kuliah tujuh menit (kultum) untuk melatih siswa mengemukakan pokok-pokok pikirannya tentang nilai dan norma agama islam yang menjadi anutan dan bimbingan perilaku setiap hari.

4) Mengumpulkan zakat, infaq dan shadaqah (ZIS), mengumpulkan pakaian bekas seragam sekolah atau pakaian bekas lainnya, mengumpulkan buku-buku bekas yang tidak terpakai untuk diberikan kepada fakir miskin, anak yatim piatu, dan orang lain yang membutuhkan. Kegiatan ini bermanfaat untuk membina sikap dan rasa peduli antar sesama yang secara ekonomis kurang beruntung.

5) Melaksanakan pesantren ramadhan dan pesantren kilat untuk memberikan tambahan pengetahuan dan pemahaman tentang nilai dan norma islam yang dilaksanakan pada bulan ramadhan dan liburan panjang. Program ini akan mencapai keberhasilan apabila disiapkan secara matang dengan mendayagunakan semua sumber daya yang tersedia di sekolah dan lingkungan sekitar.

6) Melaksanakan peringatan hari-hari besar Islam untuk meningkatkan dakwah dan wawasan siswa tentang sejarah, nilai, dan norma agama Islam yang berkembang di masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Kegiatan ini sebaiknya dilakukan dengan mengadakan kerjasama dengan lembaga-lembaga Islam yang berada di sekitar sekolah, seperti mesjid, pondok pesantren, pusat-pusat studi Islam, dan semacamnya.

7) Melaksanakan lomba karya tulis ilmiah di lingkungan sekolah atau antar sekolah tentang pentingnya imtaq dan iptek untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir, berpersepsi, dan memberikan gagasan-gagasan baru tentang pentingnya aspek keagamaan dalam pembangunan bangsa di abad informasi ini.

8) Melakukan kunjungan ke tempat-tempat studi dan peninggalan agama Islam, seperti Islamic Center, mesjid-mesjid besar, pondok pesantren, dan pusat-pusat peninggalan syi’ar Islam di masa silam, untuk memberikan nuansa dan gambaran perjuangan umat Islam dalam menegakkan agama Allah. Dalam kegiatan ini siswa diminta untuk menuliskan semua pengalaman yang mereka temui di lapangan, baik berupa hasil pengamatan, wawancara, ceramah, diskusi, dan semacamnya.

9) Membina guru dan tenaga kependidikan lainnya tentang program pengembangan keimanan dan ketaqwaan oleh kepala sekolah dan atau pengawas.

10) Mengundang nara sumber, tokoh agama, intelektual islam, dan tokoh-tokoh lainnya untuk memberikan materi keimanan ketaqwaan serta materi keilmuan lainnya yang dapat memberikan wawasan keagamaan dan keilmuan kepada siswa dan kepada warga sekolah pada umumnya. Semua program kegiatan hendaknya menjadikan siswa sebagai pusat dan pemeran utama. Untuk itu diupayakan agar kegiatankegiatan tersebut diorganisir oleh siswa dengan bimbingan kepala sekolah, GAI, dan guru lainnya. Dengan demikian siswa akan mendapatkan pengalaman langsung tentang kegiatan yang mereka organisasikan sendiri, sehingga kegiatan tersebut melatih mereka untuk lebih memahami, menghayati, dan bertanggung jawab tentang apa yang mereka lakukan.

KERJA SAMA SEKOLAH DENGAN ORANG TUA MURID

Rumah tangga (di situ ada orang tua murid) adalah tempat pendidikan pertama dan utama. Pertama karena di situlah murid itu mula-mula mendapat pendidikan; utama karena pengaruh pendidikan di rumah tangga itu sangat besar dalam terbentuknya kepribadian. Pernyataan ini menunjukkan pentingnya sekolah bekerjasama dengan rumah tangga, maksudnya bekerjasama dengan orang tua murid. Pentingnya sekolah bekerjasama dengan rumah tangga sudah sejak lama diteorikan. Sekarang ini semua guru menganggap perlu adanya kerjasama dengan orang tua murid. Guru Matematika perlu kerjasama dengan orang tua murid, sekurang-kurangnya agar orang tua murid mengingatkan agar anaknya tidak lupa mengerjakan PR. Guru mata pelajaran lain demikian juga. Nah, agar pendidikan keimanan dan ketakwaan berhasil; kerjasama sekolah dengan orang tua murid sangat perlu. Pada bagian terdahulu sudah dijelaskan bahwa bagian terbesar tujuan pendidikan agama adalah keberagamaan murid, artinya berhasil atau tidaknya pendidikan agama itu ditandai oleh diamalkannya ajaran agama itu sehari-hari oleh murid. Nah, orang tua di rumahlah yang paling mengetahui pengamalan itu oleh anaknya. Orang tua melihat anaknya mengamalkan ajaran agama. Lebih dari itu, metode peneladanan sebagai metode unggulan untuk meningkatkan keberagamaan murid, sangat mengandalkan peneladanan oleh orang tuanya di rumah. Orang tuanyalah yang paling tepat untuk meneladankan shalat tepat waktu, meneladankan kesabaran, pemurah, orang tuanyalah yang paling tepat

meneladankan bagaimana menghormat tamu, bertetangga, dan lainlain bentuk pengamalan ajaran Islam sebagai taneda keberagamaan. Pembiasaan adalah metode unggulan yang lain dalam mengembangkan keberagamaan murid. Lagi-lagi, orang tua di

rumahlah yang paling cocok untuk membiasakan tersebut, yaitu membiasakan mengamalkan ajaran Islam. Orang tuanya membiasakan shalat tepat waktu, membaca basmalah tatkala akan makan, menjawab salam bila tamu berkunjung ke rumah. Metode andalan tersebut (peneladanan dan pembiasaan) memang dapat juga digunakan di sekolah, dilakukan oleh kepala sekolajh, guru agama, guru umum, dan aparat sekolah laoinnya. Tetapi, penerapan kedua metode itu sangat terbatas di sekolah karena kehidupan murid itu jauh lebih lama di rumah ketimbang di sekolah. Kehidupan di rumah adalah kehidupan yang asli, yang sebenarnya, sementara kehidupan di sekolah kebanyakan artifisial, tidak selalu menggambarkan kehidupan yang sebenarnya. Konsekwensi dari konsep-konsep ini antara lain ialah pendidikan keberagamaan lebih berhasil bila dilakukan di rumah ketimbang di sekolah. Keunggulan pendidikan agama di sekolah ialah dan hanya dalam bidang menambah pemahaman; meningkatakan keberagamaan murid sebagian besar harus di lakukan di rumah. Inilah yang mendasari teori kita bahwa untuk memperoleh peningkatan kebertagamaan murid adalah sangat perlu adanya kerjasama sekolah dan rumah tangga.

BELAJARLAH DARI CINA

‘TUNTUTLAH ILMU SAMPAI KE NEGERI CHINA’. SEBUAH UNGKAPAN YANG SERING KITA DENGAR. BIASANYA KALI­MAT ITU DIUCAPKAN OLEH ORANG TUA KEPADA ANAKN­YA ATAU GURU KEPADA MURIDNYA SEBAGAI NASIHAT UNTUK MENUNTUT ILMU DENGAN GIAT WALAU KE NEG­ERI SEBERANG.

JIKA dulu kalimat seperti itu masih bermakna konotatif, kini telah memiliki makna denotatif. Kemajuan ekono­mi China yang sedemikian pesat membuat banyak orang berminat untuk pergi menuntut ilmu ke sana. Tak terkecuali pemerintah kita.

Dirjen Pendidikan Tinggi Dep­diknas Fasli Jalal menyatakan niatnya untuk belajar tentang pendidikan untuk guru kepada China. Pernyataan itu diutara­kannya setelah penutupan The Seventh E-9 Ministerial Review Meeting on Education for All di Bali (12/3) sebagaimana dilansir The Jakarta Post (13/3).

China memang menempatkan guru sebagai prioritas dalam sis­tem pendidikan mereka. Dalam tulisannya, peneliti China Hou­can Zhang mengutip komitmen pemerintah pusat China me­ngenai pentingnya guru, ‘Kunci keberhasilan pembangunan na­sional terletak pada pendidikan dan kunci keberhasilan pendi­dikan terletak pada guru’.

Selama lebih dari 100 tahun, pendidikan guru secara sis­tematis telah dilakukan di China dan telah berkontribusi pada terciptanya korps guru di negeri itu. Menurut laporan penelitian Zhang pada 2002, pendidikan guru di China saat ini menekan­kan pada perubahan pemikiran tentang pendidikan, konsep, ma­teri dan metode pembelajaran, terutama moralitas guru. Semua­nya dilakukan sebagai jawaban atas permintaan akan pentingnya mudernisasi pendidikan, orien­tasi global, dan masa depan.

Reformasi pendidikan dan kebutuhan realitas global mendo­rong pemerintah China untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas guru-guru baru. Peme­rintah China menyediakan pendi­dikan yang berkesinambungan untuk meningkatkan pelayanan guru-guru sekolah, melakukan pemerataan guru hingga ke dae­rah-daerah terpencil, dan men­dorong berkembangnya institusi pelatihan guru. Semua dilakukan sebagai salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari upaya memajukan pendidikan di China.

Sejarah Reformasi

China memang telah terkenal menempatkan pendidikan seba­gai komponen utama di masya­rakat. Salah satin filsuf Cina yang terkenal, Confucius (551-479 SM) sangat menekankan pentingnya belajar. Ia bahkan pernah menga­takan, “Orang-orang yang bela­jarlah yang menjadi pejabat.” Per­nyataannya itu kemudian men­jadi landasan pendidikan di Chi­na selama lebih dari 2.000 tahun.

Pada awal abad ketujuh, peme­rintah China menyelenggarakan program seleksi penerimaan pegawai pemerintah. Program itu merupakan seleksi berbasis ki­nerja pertama dalam sistem pe­merintahan China. Salah satu syarat untuk lolos seleksi adalah calon pegawai harus bisa mem­baca dan mengingat kisah-kisah China klasik, serta mampu me­nulis esai dengan cara tertentu. Meski sudah dihapus sejak 1905 karena dinilai sebagai warisan kerajaan, seleksi itu berpengaruh besar dalam budaya masyarakat China, termasuk pendidikan Chi­na yang menekankan pentingnya kemampuan menulis dan olah bahasa.

Sebelum reformasi pendidikan dicanangkan, sekolah-sekolah di China sangat menekankan pada pentingnya kemampuan intelek­tual. Murid-murid dituntut untuk bisa memahami semua materi yang diberikan guru, mengerjakan tugas-tugas, dan bahkan memakai waktu mereka di rumah untuk menyelesaikan tugas-tugas dari sekolah. Metode drilling semacam itu memang efektif me­ngantarkan murid-murid China memenangi berbagai kompetisi internasional. Akan tetapi, di sisi lain, anak-anak China mengha­dapi berbagai masalah, seperti rendahnya keterampilan praktis, kekakuan dalam menyelesaikan masalah, dan melemahnya pertimbangan moral.

Kondisi itu mendorong peme­rintah China melakukan refor­masi pendidikan yang pertama pada 1985. Tujuan pendidikan saat itu adalah meningkatkan kualitas bangsa dengan mengha­silkan orang-orang yang berkua­litas. Untuk mencapai tujuan itu, pemerintah mencanangkan pen­didikan yang berorientasi pada pendidikan tinggi. Murid-murid hanya dipersiapkan untuk bisa lolos seleksi ke pendidikan yang lebih tinggi dan mencapai per­guruan tinggi. Strategi itu dikenal sebagai ‘orientasi ujian’.

Pada 1993, pemerintah China memublikasikan garis besar re­formasi dan pembangunan pen­didikan China. Itulah reformasi pendidikan China yang berperan besar menciptakan kemajuan pendidikan China hingga men­jadi seperti sekarang. Dalam pu­blikasi tersebut, ‘orientasi ujian’ yang selama ini dianut diubah menjadi ‘orientasi kualitas esen­sial’. Ada dua hal yang menjadi titik berat dalam pendidikan ber­orientasi kualitas esensial (EQO­-education) yang dicanangkan pe­merintah China. Pertama, ‘pendi­dikan untuk semua’ (education for all). Artinya, semua anak di China harus mendapat pendidikan. Anak-anak dianggap sebagai pe­nentu masa depan bangsa China. Semua harus memperoleh pendi­dikan demi kemajuan bangsa di masa depan. Konsekuensinya,

“Jangan ada lagi anak-anak di taman kanak-kanak yang dipaksa ikut les tambahan belajar membaca supaya bisa lulus tes masuk sekolah dasar.”

pemerintah menjadi semakin memerhatikan tersedianya fasili­tas pendidikan secara merata. Pemerintah terus memperbaiki sekolah-sekolah yang rusak di pedalaman, meningkatkan per­alatan laboratorium di sekolah­-sekolah, mengurangi jumlah mu­rid di dalam satu kelas, memper­banyak kelas, memperbanyak te­naga pendidik, dan mening­katkan kesejahteraan para pe­ngajar.

Kedua, tujuan pendidikan ada­lah mengembangkan kepribadian murid secara menyeluruh. Seko­lah-sekolah tidak hanya menem­pa kognisi murid, tetapi juga mengasah intelektual, moral, fi­sik, sosial, dan estetika. Dengan dicanangkannya EQO-education, peningkatan kreativitas dan ke­mampuan praktis menjadi pen­ting.

Peran psikologi

Keberhasilan pencapaian tu­juan EQO-education di China tak bisa lepas dari peranan ahli psikologi, khususnya para psikologi pendidikan. Salah satu peran mereka adalah reorganisasi kurikulum dan buku teks dengan berlandaskan pada hasil pene­litian eksperimental. Penelitian psikologi dalam bidang kuriku­lum dan buku teks bertujuan menjawab pertanyaan, penge­tahuan apa yang sesuai untuk di­pelajari anak-anak menurut usia mereka dan bagaimana menga­jarkan pengetahuan itu.

Salah satu contoh kontribusi penelitian psikologi adalah te­muan bahwa membaca adalah subjek yang penting bagi anak­anak di tahun-tahun pertama se­kolah dasar. Hal itu karena huruf-­huruf bahasa China memiliki ka­rakteristik khusus yang berbeda dari huruf Latin. Berdasarkan studi psikologi tentang membaca dalam bahasa China, ditemukan, kesadaran bentuk-bentuk (mor­fologi) dan volume membaca adalah dua faktor yang efektif untuk mempermudah pemaham­an huruf dan bacaan. Maka, dua faktor itu diajarkan pada anak­- anak di tahun-tahun pertama se­kolah dasar.

Belajar dari China

Niat pemerintah Indonesia un­tuk belajar dari China tentang pendidikan dan distribusi guru patut didukung. Meningkatkan kualitas guru berarti mening­katkan kualitas pendidikan. Me­nyediakan guru-guru berkualitas di pedalaman berarti mencerdaskan semua anak bangsa di mana pun mereka berada.

Namun, selain guru, ada dua hal penting lain yang patut di pelajari dari pendidikan di China. Pertama, komitmen dan konsistensi pemerintah China untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas pendidikan berdasarkan kebutuhan mereka sendiri. Pencanangan suatu strategi pendidikan diikuti dengan perangkat kebijakan dan teknis implementasi lapangan. Implementasi sebuah strategi pendidikan dilakukan untuk jangka menengah hingga jangka panjang, tidak cepat berubah, selalu dievaluasi keberhasilannya, dan mempertimbangkan kondisi masyarakat China sendiri.

Kedua, kurikulum dan buku teks disusun berdasarkan hasil penelitian. Hal itu menuntut digalakkannya penelitian psikologi untuk pendidikan. Penelitian-penelitian psikologi amat diperlukan untuk menjawab pertanyaan tentang pengetahuan yang sesuai untuk dipelajari anak-anak menurut usia mereka dan bagaimana mengajarkan pengetahuan itu. Karena di teliti di masyarakatnya maka hasil  temuan itu memang yang paling sesuai dengan masyarakat China. Kurikulum dan metode tidak semata-mata meniru dari Barat atau Negara lain, tetapi yang se­suai dengan masyarakat China.

Kurikulum dan buku teks juga tidak disusun berdasarkan subjek yang ada, tetapi mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan anak-anak sesuai dengan usianya. Jadi, anak-anak tidak terbebani oleh banyaknya mata ajar, tugas-tugas, atau membaca buku yang cara penyajiannya tidak se­suai dengan kemampuan kognitif di usia mereka. Anak-anak seha­rusnya bisa lebih mudah meng­ikuti pelajaran karena ilmu yang diperoleh sesuai dengan kebu­tuhan mereka dan cara penyam­paiannya sesuai dengan kemam­puan usia mereka. Jangan ada lagi, misalnya, anak-anak di ta­man kanak-kanak yang dipaksa ikut les tambahan belajar mem­baca supaya bisa lulus tes masuk sekolah dasar. Atau jangan ada lagi anak-anak sekolah dasar yang diharuskan mengerjakan lembar kerja yang hurufnya di­cetak kecil-kecil seperti buku teks orang dewasa.

Jika Indonesia memang berniat untuk menjadi bangsa yang maju, komitmen dan konsistensi peme­rintah di bidang pendidikan dan penyusunan kurikulum/buku teks berbasis penelitian psikologi mutlak dilakukan. Segera.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: